Kebijakan umum kaderisasi di era jahriyah-jamahiriyah
ini adalah penumbuhan jumlah dan
|
peningkatan kualitas kader. Ini membuat agenda
tarbiyah menjadi lebih besar dan berat. Namun
|
bukan berarti tidak mungkin.
|
Selama ikhtiar da’awi kita selaras dengan sunnah
syar’iyyah dan sunnah kauniyah, hal-hal yang
|
berat dalam pandangan sebagian manusia menjadi ringan
karena pertolongan Allah SWT.
|
Kualitas tentu saja harus mendahului kuantitas. Numu
nau’iyah nuqaddam ‘ala numu kammiyah.
|
Ketika kualitas kader baik, maka mudah untuk memompa
kuantitas.
|
Harakah Nukhbawiyah
|
Perlu dipahami kembali bahwa da’wah kita adalah
harakah nukhbawiyah. Artinya da’wah yang
|
menempatkan kader sebagai aset utama gerakan dan
sebagai ujung tombak terdepan seluruh
|
aktifitas da’wah.
|
Ketika da’wah harus mampu menjangkau dan menggerakkan
seluruh unsur masyarakat, maka
|
pembesaran jumlah kader sebagai anashir da’wah menjadi
mutlak diperlukan. Dan ketika misi
|
da’wah juga harus mampu menghasilkan
perubahan-perubahan besar di berbagai aspek
|
kehidupan, maka peningkatan kualitas kader menjadi
suatu keniscayaan.
|
Perpaduan antara aspek kuantitas dan kualitas inilah
yang digambarkan Allah SWT dalam ayat:
|
"Dan berapa banyaknya nabi yang berperang
bersama-sama mereka sejumlah besar dari
|
pengikutnya yang bertaqwa (rabbaniyyin). Mereka tidak
menjadi lemah karena bencana yang
|
menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan
tidak pula menyerah kepada musuh. Allah
|
menyukai orang-orang yang sabar." (QS. Ali Imran:
146).
|
Urgensi Kualitas dan Akibat Mengabaikannya
|
Kualitas kader dalam kehidupan da’wah harus senantiasa
mengikuti kebutuhan marhaliyah dan
|
mihwar da’wah. Semakin meningkat marhalah dan semakin
meluas mihwar da’wah, maka
|
kualitas kader pun dituntut untuk semakin berkembang.
Bila yang terjadi sebaliknya, maka akan
|
muncul bencana bagi da’wah. Apa bentuk bencana itu?
|
Pertama, akan muncul kader-kader yang tidak mampu
istiqamah di dalam mengikuti irama
|
perjalanan da’wah yang dinamis. Ia akan tersibukkan
oleh problem-problem personal dan
|
terjauhkan dari aktifitas da’wah. Ingatlah, ayat yang
membuat rambut nabi Muhammad SAW
|
beruban adalah: "Maka istiqamahlah kamu (pada
jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan
|
kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta
kamu dan janganlak kamu melampaui
|
batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu
kerjakan." (QS. 11:112 ). Kesabaran
|
untuk menggapai janji-janji Allah adalah kunci
rahasianya. "Dan bersabarlah kamu bersama-
|
sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap
|
keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling
dari mereka (karena) mengharapkan
|
perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah Kami
|
lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa
nafsunya dan adalah keadaannya itu
|
melewati batas." (QS. 18:28).
|
Kedua, munculnya sebagian kader yang menginginkan
kehidupan da’wah sebagai sesuatu yang
|
ringan dan menyenangkan secara duniawi. Mereka menjadi
enggan ketika perjalanan da’wah ini
|
begitu panjang dan membutuhkan pengorbanan yang
banyak. Mereka cenderung menjadi orang
|
yang ingin "hidup dari da’wah" dan bukan
"menghidupi da’wah". Perhatikan peringatan Allah
|
SWT: "Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu
keuntungan yang mudah diperoleh dan
|
perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka
mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu
|
amat jauh terasa oleh mereka. Mereka bersumpah dengan
(nama) Allah: "Jikalau kami sanggup,
|
tetulah kami berangkat bersamamu". Mereka
membinasakan diri mereka sendiri dan Allah
|
mengetahui bahwa mereka sesungguhnya benar-benar orang
yang berdusta." (QS. 9:42).
|
Ketiga, munculnya ketidakmampuan di dalam menjalankan
misi da’wah ditengah-tengah
|
masyarakat. Ini karena daya dukung dan daya topang
yang dimiliki kader semacam ini, tidak
|
seimbang dengan kebutuhan dan tuntutan da’wah yang
semakin terbuka. Allah SWT
|
mengarahkan Rasulullah SAW untuk menyiapkan diri
sedemikian rupa agar mampu mengemban
|
misi da’wah yang besar dan berat. "Hai orang yang
berselimut. Bangunlah, lalu berilah
|
peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah. Dan pakaianmu
bersihkanlah. Dan perbuatan dosa
|
tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan
maksud) memperoleh (balasan) yang lebih
|
banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu,
bersabarlah." (QS. 74: 1-7).
|
Keempat, akibat dari ketiga hal ini, da’wah menjadi
disibukkan oleh problematika internal yang
|
menguras energi da’wah, sehingga tidak mampu
menjalankan misi-misi perubahan secara
|
efektif. Padahal misi utama da’wah adalah melakukan
perubahan dan perbaikan secara nyata.
|
"... Dan aku tidak bermaksud kecuali
(mendatangkan) perbaikan selama aku masih
|
berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan
dengan (pertolongan) Allah. Hanya
|
kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya lah
aku kembali." (QS. 11:88).
|
Kelima, akibat ketidakmampuan ini, timbul kesenjangan
antara harapan besar masyarakat
|
dengan apa yang bisa diberikan oleh da’wah. Lalu
terjadi krisis kredibilitas dan krisis legitimasi.
|
Krisis ini bisa jadi akan diperamai oleh sejumlah
kasus-kasus negatif yang muncul ke permukaan.
|
Perhatikan peringatan Allah SWT: "Hai orang-orang
yang beriman, mengapa kamu mengatakan
|
apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-
|
apa yang tiada kamu kerjakan." (QS. 61:2-3).
|
Terakhir, pada saat semacam itulah, akan muncul
pikiran di sebagian kader yang lemah, untuk
|
menarik kembali da’wah ke belakang. Mereka merasa
lebih nyaman ketika da’wah ini belum
|
berhadapan langsung dengan masyarakat secara terbuka.
Cukuplah pelajaran dari kisah perang
|
Uhud berikut ini: "Orang-orang yang ditinggalkan
(tidak ikut berperang) itu, merasa gembira
|
dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan
mereka tidak suka berjihad dengan harta
|
dan jiwa mereka pada jalan Allah. Dan mereka berkata:
"Janganlah kamu berangkat (pergi
|
berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah:
"Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas",
|
jikalau mereka mengetahui." (QS. 9:81). Inilah
bencana yang bisa terjadi pada da’wah manakala
|
File PDF nya Untuk Lanjutkan Baca ....:)